Sabtu, 22 Februari 2014

Kurikulum Program Studi : Ilmu Akuntansi

Kurikulum Program Studi : Ilmu Akuntansi

Jenjang : Magister (S2)


Tujuan Pendidikan :

Menghasilkan lulusan yang mampu melakukan penelitian dan pengkajian di bidang praktik

akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik dengan menggunakan teori-teori yang

relevan, baik dalam tataran nasional maupun internasional



Kompetensi Lulusan :

1. Mampu melakukan riset tentang praktik akuntasi  baik sektor privat ataupun sektor publik dalam

tataran nasional dan internasional berdasarkan berbagai teori serta metodologi di bidang akuntansi

dan bidang lainnya yang terkait

2. Mampu melakukan eksplorasi dalam ilmu akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik baik

sektor privat ataupun sektor publik melalui riset akademis

3. Mampu berinteraksi dengan masyarakat untuk mengenali masalah-masalah yang terkait dengan praktik

dan ilmu akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik

4. Mampu melakukan penelitian praktik akuntansi yang mempunyai dampak strategis terhadap

perkembangan ilmu dan masyarakat luas

5. Mampu mengevaluasi fenomena bisnis dan akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik

baik sektor privat ataupun sektor publik dengan pendekatan akademis


Beban dan Masa Studi : 42 SKS - 2 s/d 3 tahun



Tujuan Pendidikan :

Menghasilkan lulusan yang mampu melakukan penelitian dan pengkajian di bidang praktik
akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik dengan menggunakan teori-teori yang
relevan, baik dalam tataran nasional maupun internasional.



Kompetensi Lulusan

1. Mampu melakukan riset tentang praktik akuntasi  baik sektor privat ataupun sektor publik dalam
tataran nasional dan internasional berdasarkan berbagai teori serta metodologi di bidang akuntansi
dan bidang lainnya yang terkait
2. Mampu melakukan eksplorasi dalam ilmu akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik baik
sektor privat ataupun sektor publik melalui riset akademis
3. Mampu berinteraksi dengan masyarakat untuk mengenali masalah-masalah yang terkait dengan praktik
dan ilmu akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik
4. Mampu melakukan penelitian praktik akuntansi yang mempunyai dampak strategis terhadap
perkembangan ilmu dan masyarakat luas
5. Mampu mengevaluasi fenomena bisnis dan akuntansi baik sektor privat ataupun sektor publik
baik sektor privat ataupun sektor publik dengan pendekatan akademis


Beban dan Masa Studi: 42 SKS - 2 s/d 3 tahun


Struktur Kurikulum Jumlah SKS Persentase (%)
Mata Kuliah Wajib Prodi 30 71%
Peminatan 0 0%
Pilihan Bebas 12 29%
Jumlah 42 100%


Lampiran Kurikulum : S2 Ilmu AkuntansiStrategi & Metode

Pembelajaran : Classical dan SCL



Kurikulum Program Studi : Ilmu Akuntansi

Jenjang : Megister (S2)

SEMESTER  1 SEMESTER  2
Kode MATA KULIAH sks Kode MATA KULIAH sks
Wajib
ACCT 72301 Seminar Akuntansi Manajemen 3 ACCT 71313 Pelaporan Keuangan Perusahaan 3
ECON 71301 Ekonometri 1 3 ACCT 71314 Kebijakan Keuangan Perusahaan 3
ACCT 71402 Teori Akuntansi Keuangan & Atestasi 3 Pilihan 1 3
ACCT 79106 Metode Riset Akuntansi 3 Pilihan 2 3
Jumlah SKS Semester 1 12 Jumlah SKS Semester 2 12




SEMESTER  3 SEMESTER  4
Kode MATA KULIAH sks Kode MATA KULIAH sks
ACCT 77208 Sistem Informasi dan Pengendalian 3 ACCT 79301 Tesis 6
ACCT 74107 Auditing 3
Pilihan 3 3
Pilihan 4 3
Jumlah SKS Semester 3 12 Jumlah SKS Semester 4 6


Resume Wajib Program Studi: 30
Peminatan 12
Jumlah 42
Pilihan Bebas
Total Beban Studi 42




Mata Kuliah Pilihan: sks
ECON 71201 Statistik Bisnis 3
ECON 70101 Ekonomi Mikro 3
ECON 71102 Matematika Ekonomi 3
ACCT 71306 Good Governance 3
ACCT 73205 Hukum Bisnis dan Perpajakan 3
ACCT 75101 Akuntansi dan Lembaga Keuangan Syariah 3
ACCT 76701 Akuntansi Sektor Publik dan Organisasi Nir Laba 3
ACCT 72203 Akuntansi Manajemen Stratejik 3
ACCT 71423 Behavioral Accounting 3
ACCT 71421 Analisis Laporan Keuangan 3
ACCT 71502 Investasi & Pasar Modal 3
ACCT 71503 Seminar Riset Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal 3
AACT 79120 Perbankan dan Lembaga Keuangan 3


Jumat, 17 Januari 2014

Mendongkrak Karir di Akuntansi:


Mendongkrak Karir di Akuntansi: 
Apakah Perlu Study Lanjutan?



Menambah ilmu—dengan melanjutkan study—selalu baik. Namun keterbatasan finansial, waktu dan tenaga, kerap membuat logika sederhana ini menjadi rumit.

Lulusan S1 Akuntansi yang punya uang, bingung memilih apakah sebaiknya bekerja atau melanjutkan study. Sementara mereka yang sudah bertekad melanjutkan study pun masih bingung memilih program study yang paling tepat untuk mendongkrak karir di bidang akuntansi.

Bisa dipahami. Karena bagimanapun juga, melanjutkan study mengkonsumsi waktu dan tenaga. Terlebih-lebih biaya pendidikan di Indonesia tergolong mahal.

Perlu pertimbangan yang matang sebelum menghambur-hamburkan biaya, waktu dan tenaga. Misalnya dengan berpikir:


Apakah rencana melanjutkan study benar-benar penting dan mendesak?
Kapan saat yang paling tepat untuk melanjutkan study sehingga tepat guna (bisa mendongkrak karir)?

Itulah pokok bahasan dalam artikel ini, yang saya intisarikan dari hasil percakapan dengan Senior Admin nya JAK pada akhir pekan kemarin. Mudah-mudahan bisa menjadi alternatif pertimbangan bagi mereka yang memerlukan.

Mengapa mengutip percakapan dengan dari senior admin nya JAK? Karena dia lebih berpengalaman dibandingkan saya pribadi dan admin JAK lainnya, sehingga sudah kita anggap sebagai mentor di sini.

Disamping itu, pandangan beliau sering kali ‘out of the box’ dan bisa jadi sangat berbeda dibandingkan sudut pandang yang lumrah. Terakhir, karena beliau orangnya murah hati, tak pernah pelit dalam urusan ilmu. Ini yang membuat kami betah di JAK.

Kita mulai dengan pertanyaan pertama:
apakah setelah lulus perlu melanjutkan study sebelum terjun ke dunia kerja?

Belum Urgent Untuk Fresh Graduate

Untuk fresh graduate yang ingin berkarir di lingkungan bisnis lebih baik langsung bekerja. Jangan buang-buang waktu untuk study ini dan itu,” saran senior Admin JAK via Skype.

“Embel-embel gelar tak banyak berpengaruh di lingkungan bisnis. Yang menentukan seseorang qualified atau tidak hanya kemampuan dan sikap mentalnya dalam bekerja. Dan lulusan D3 atau S1 Akuntansi sudah merupakan bekal yang cukup untuk itu,” terangnya.

Apakah study S2 tidak ada manfaatnya samasekali bagi fresh graduate?

Tentu ada. Yang namanya ilmu, jika dipelajari dan diterapkan secara sungguh-sungguh sudah pasti ada manfaatnya. Namun perlu dilihat urgensi dan relevansinya, hitung COST-and-BENEFIT nya. Biaya study di Indonesia kan mahal, jadi sebaiknya yang benar-benar berpengaruh langsung terhadap kemampuan bekerja,” beliau mengingatkan.

“Untuk akademisi dan peneliti, berpendidikan S2 mungkin merupakan nilai tambah. Namun untuk praktisi (yang akan atau sedang bekerja di lingkungan bisnis), saya rasa tidak signifikan,” tandasnya.

Bagimana jika ingin jadi auditor di Kantor Akuntan Publik (KAP)?
Bukankah pekerjaan ini memerlukan keahlian yang belum diperoleh di jenjang S1?

“Tidak harus. Banyak koq fresh graduate yang langsung masuk KAP, tanpa didahului dengan mengambil study khusus. Yang penting mau belajar dari senior di sana.”

Untuk menjalankan proses audit, bukannya perlu sekolah khusus audit dan pegang
lisensi akuntan publik terlebih dahulu?

Ini yang sering disalahpersepsikan.
Banyak yang berpikir kalau semua auditor itu akuntan publik. The truth is NOT.”

Lalu, yang betul bagaimana?

Kepada adik-adik fresh graduate, tolong diingat kembali mata kuliah auditnya. Proses audit itu sesungguhnya panjang—mulai dari observasi lapangan, membuat rencana audit, mengumpulkan data/bukti, menganalisa, memvalidasi, sampai pada proses menarik kesimpulan dan memberikan atestasi (opini),” senior admin JAK menjelaskan.

“Khusus untuk memberikan atestasi mengenai kewajaran sebuah laporan keuangan, memang HARUS seorang akuntan publik. Namun pekerjaan-pekerjaan lainnya tidak harus. Itu sebabnya yang menangani proses audit itu tidak seorang diri, melainkan sebuah team yang terdiri dari berbagai macam level auditor. Fresh graduate bisa jadi junior, membantu para senior sambil belajar,” sambungnya.

“Kalau ada cukup waktu dan uang, boleh juga ambil program PPAk dan Berevet Pajak. Lulus salahsatunya mungkin meningkatkan chance diterima bekerja. Namun perlu disadari bahwa, lulus program PPAk tidak jaminan pasti langsung bisa mengaudit. Dan lulusan Brevet Pajak juga bukan jaminan pasti bisa langsung menangani perpajakan secara mandiri. Tetap saja harus mulai dari posisi junior dan belajar daru senior yang kebanyakan hanya berpindidikan S1” terangnya lebih rinci.

“Yang perlu saya tekankan di sini, untuk melamar kerja di KAP tidak harus seorang CPA, apalagi S2, samasekali tidak,” tandasnya.

Saya ceritakan, saat ini di Indonesia, ada wacana berkembang yang menyebutkan bahwa untuk ujian Certified Public Accountant (CPA) di masa yang akan datang tak harus lulusan PPAk, bahkan katanya tak harus jurusan akuntansi, yang penting mampu menjawab soal-soal ujian CPA. Wacana inilah yang membuat banyak lulusan S1 Akuntansi menjadi ragu-ragu antara mengambil program PPAk atau mengambil S2.

“Nah apalagi jika aturan itu nanti sudah berlaku. Jadinya jauh lebih penting mempraktekkan ilmu yang diperoleh di jenjang S1 ketimbang study-study lagi.”

Soal Ujian CPA maupun Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak (USKP),

menurut beliau, memang dirancang untuk mereka-mereka yang sudah tahu caranya menjalankan pekerjaan akuntansi yang sesungguhnya, bukan yang hanya menguasai teori atau konsep semata. Itu sebabnya, fresh graduate yang ikut ujian CPA atau USKP lebih banyak yang tak lulus, meskipun sudah mengambil program PPAk dan Brevet Pajak

Tujuan dari ujian CPA dan pemberian sertifikat akuntan publik bagi yang lulus,

masih menurut beliau, adalah untuk memastikan bahwa mereka yang berpraktek sebagai akuntan publik nantinya adalah akuntan yang benar-benar memenuhi qualifikasi. Adapun quaifikasi yang dimaksudkan, menurut beliau, yaitu:


*.Sunguh-sungguh menguasai teori dan standar akuntansi <<<== Mereka yang serius kuliah sudah memperoleh ini saat menempuh S1 Akuntansi.
Sungguh-sungguh mampu menjalankan pekerjaan teknis akuntansi—mulai dari pengukuran, pengakuan/pencatatan, sampai penyajian dalam bentuk laporan keuangan—secara practical <<<== Sebagian kecil dari sekill ini bisa diperoleh melalui program PPAk, sedangkan sebagian besarnya diperoleh dengan pengalaman bekerja.
*.Sungguh-sungguh mampu menjalankan proses kompilasi (menyusun), mengaudit (memeriksa) dan memberi atestasi (menilai kewajaran) laporan keuangan secara independent <<<== Sebagian kecil dari skill ini bisa diperoleh melalui program PPAk dan sebagian besarnya melalui pengalaman bekerja (terutama di KAP) dan ujian CPA.
*.Sungguh memahami dan mampu menunjung tinggi kode etik Akuntan Publik <<<== Secara teoritis sudah dipelajari saat menempuh S1 dan program PPAk, sedangkan prakteknya bisa diperoleh dengan bekerja.
Hal serupa juga berlaku bagi sertifikasi profesi konsultan pajak dan auditor internal.

Simpulan (Sementara):

*Setelah lulus S1, mempraktekkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah adalah yang paling penting dan paling urgent untuk dilakukan dalam berkarir di bidang akuntansi dalam lingkungan bisnis.
*Sertifikasi profesi (CPA, BKP, CIA atau CISA) penting sebagai bentuk pengukuhan bahwa seorang akuntan benar-benar memenuhi kualifikasi untuk menjalankan profesi khusus, entah menjadi seorang akuntan publik, auditor, atau konsultan pajak.
“Sedangkan study S2 dibutuhkan dalam profesi dan tingkat urgensi yang berbeda,” Senior Admin JAK menambahkan.

Profesi dan tingkat urgensi seperti apa yang membutuhkan study S2 untuk berkarir di bidang akuntansi?

Kapan Perlu Study Lanjutan?

Untuk fresh graduate sudah jelas, tak usah bingung memilih antara bekerja atau melanjutkan study. Begitu lulus langsung lamar kerja. Kalau ada uang dan waktu lebih, bisa ambil PPAk atau Brevet Pajak, TAK PERLU sampai ambil study S2 jika orientasinya adalah BERKARIR DI LINGKUNGAN BISNIS (menjadi praktisi). Tapi jika ingin menjadi akuntan pendidik atau peneliti, mungkin perlu ambil S2.

Bagaimana dengan akuntan yang telah bekerja? pakah sudah waktunya untuk melanjutkan study S2? Program study apa persisnya yang diperlukan sehingga benar-benar bisa mendongkrak karir?

“Pisah batasnya adalah Management Level,” senior admin JAK memberi batasan.

“Mereka yang saat ini sudah ada di Management Level dan ingin meraih posisi Middle-Management hingga Executive Level, sudah saatnya melanjutkan study S2” imbuhnya.

Perlu saya jelaskan, jenjang (level) management hingga executive ini berbeda-beda antara satu sektor usaha dengan sektor lain:

Di Kantor Akuntan Publik (KAP), Konsultan Pajak (KKP) atau Trusted Business Advisor (TBA)

– Yang disebut Management Level mulai dari Supervisor sampai dengan Manager. Sedangkan yang disebut Middle-Management adalah posisi Partner dan Managing Partner. Dan yang disebut Executive Level adalah Vice Presidennt dan President. (KAP berskala kecil mungkin strukturnya agak berbeda).

Di perusahaan non-KAP, KKP, TB (misal: manufaktur, dagang, banking, hospitality, dlsb)
– Yang disebut management level adalah posisi Supervisor, Chief Accountant hingga Manager. Sedangkan yang disebut Middle-Management Level adalah posisi General Manager (operasional), Controller (akuntansi) dan Treasurer (keuangan). Dan yang disebut Executive Level adalah posisi Chief Financial Officer (CFO) setara dengan Direktur Keuangan, dan Chief Executive Officer (CEO) yang setara dengan Direktur Utama, Vice President dan President.

Seseorang yang sudah ada di level management tentunya sudah mampu dan berhasil mengaplikasikan sebagian besar ilmu yang diperoleh di bangku kuliah S1 dengan sangat baik. Terlebih-lebih berbagai macam sertifikat profesional (Akuntan, CPA, BKP, CIA/CISA, CMA, CFE, dlsb) sudah dimiliki—sehingga sudah bisa disebut sebagai seseorang yang sangat menguasai pekerjaanya (terampil), bisa bekerja secara mandiri dan professional.

“Dengan semua itu, seorang manager idealnya telah mampu mengambil keputusan-keputusan bisnis yang berlaku terbatas (misal: hanya berlaku di satu seksi atau devisi atau department). Namun demikian, masih BELUM MAMPU mengambil keputusan-keputusan bisnis yang berlaku dan berdampak luas,” senior admin JAK menambahkan.

Lebih lanjut senior mengatakan bahwa, keputusan-keputusan yang berlaku dan berdampak luas di semua lingkup perusahaan hanya mampu diambil oleh orang yang tidak sekedar terampil dan mampu bekerja secara mandiri, melainkan sudah ahli (expert) di bidangnya, mampu memandang perusahaan secara kesuluruhan (tidak departemental). Dan orang-orang seperti ini adalah mereka yang mengisi posisi Middle-Management Level (GM, Controller, Treasurer) dan Executive Level (CFO, CEO, Vice President, President).

Rekan pembaca JAK yang saat ini sudah berada di posisi management dan selangkah lagi akan masuk ke jenjang middle-management, menurut senior admin JAK, sudah waktunya untuk melanjutkan study dengan mengambil S2 jika memang ada rencana untuk itu. Di jenjang ini, study S2 sudah tepat guna.

Kesimpulan Akhir

Melanjutkan study adalah pilihan yang baik. Namun perlu menimbang cost-dan-benefitnya, mengingat biaya pendidikan saat ini tidaklah murah. Sehingga, jika meneruskan pendidikan, JAK menganjurkan untuk memilih program yang sungguh tepat guna dan memberi kontribusi langsung terhadap kemampuan bekerja, thus perkembangan karir.

Yang paling penting dipertimbangkan dalam hal ini adalah tingkat kebutuhan dan relevansinya:

1.Jika ingin menjadi akuntan pendidik(dosen misalnya) atau peneliti, maka melanjutkan study ke S2 adalah urgent.
2.Fresh graduate yang ingin berkarir di lingkungan bisnis
entah di KAP atau di perusahaan non-KAP, belum urgent untuk melanjutkan study ke S2. Bekal pendidikan S1 Akuntansi (bahkan D3 sekalipun) sudah merupakan bekal yang cukup, setidaknya sampai menjadi seorang chief accountant atau manager.
3.Untuk Fresh graduate yang merasa belum siap bekerja mengambil program Pendidikan Profesi Akuntan (PPAk) atau Berevet Pajak juga pilihan yang relevan. Namun perlu disadari bahwa lulus PPAk takkan serta-merta membuat siap menjadi seorang auditor dan lulus Brevet pajak juga takkan langsung membuat siap menjadi konsultan pajak yang mandiri. Pada kenyataannya tetap harus menjadi pegawai pemula di tempat kerja.
4.Mengikuti ujian CPA adalah penting
untuk mengukuhkan diri sebagai seorang akuntan publik yang memang memiliki qualifikasi untuk berpraktek. Mengikuti ujian sertifikasi konsultan pajak (USKP) juga penting untuk mengukuhkan diri sebagai seorang konsultan pajak profesional. Dan ujian certified intenal auditor (CIA/CISA), juga penting untuk mereka yang ingin mengukuhkan diri sebagai seorang auditor yang profesional.
5.Ujian sertifikasi profesi (CPA, BKP, CIA/CISA, CMA, CFE, dll)
sebaiknya diambil setelah memiliki pengalaman bekera yang cukup di bidang masing-masing, biasanya setelah memiliki masa kerja minimal 2 hingga 3 tahun, sehingga chance lulusnya menjadi lebih tinggi. Karena soal-soal ujiannya memang dirancang untuk mereka-mereka yang memang sudah betul-betul mampu menjalankan proses pekerjaan yang sesungguhnya, bukan sebatas menguasai teori/konsep.
6.Khususnya di lingkungan bisnis
melanjutkan study S2 baru menjadi urgent dan tepat guna bagi seseorang yang telah menempati posisi management-level (supervisor s/d manager) dan ingin naik ke middle-management level (GM, Controller, Treasurer).

Pertanyaan yang masih tersisa: program study S2 apa yang paling sesuai untuk orang akuntansi dan keuangan?
Ini kita jawab di artikel berikutnya. Sebenarnya sudah ready, namun editor putuskan untuk membaginya menjadi 2 sesi agar tidak terlalu panjang. Silahkan baca lanjutannya

Selasa, 07 Januari 2014

Dua Cara Membuat Laporan Arus Kas Menurut Sumber Datanya

Membuat Lapran Arus Kas - Cash Flow

Dua Cara Membuat Laporan Arus Kas Menurut Sumber Datanya

“Kondisi” yang saya maksudkan adalah ketersediaan data untuk menyusun laporan arus kas. Dalam kondisi ideal, dan ini harapan setiap akuntan, semua data yang diperlukan tersedia. Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian.
Sedangkan “kebutuhan” dalam hal ini adalah, apa yang diharapkan dari sebuah laporan arus kas; apakah sekedar tahu arus kas saja? Atau sekaligus mengetahui hubungan antara Laporan Arus Kas dengan Laporan Laba Rugi?
KONDISI dan KEBUTUHAN inilah yang menentukan cara mana yang akan digunakan untuk menyusun laporan arus kas, dan akan dibahas dalam artikel ini.
Seperti telah disampaikan di awal, ada 2 cara menyusun laporan arus kas, menuru sumber data yang digunakan:
  • Mengusun Laporan Arus Kas, dengan menggunakan sumber data berupa “Buku Kas”
  • Menyusun Laporan Arus Kas, dengan menggunakan sumberdata berupa “Laporan Laba Rugi” dan “Neraca Komparasi”
Masing-masing cara ini memeliki kelebihan dan kekurangan. Kita bahas satu persatu.

1. Menggunakan Buku Kas

Menggunakan Buku Kas sebagai sumber data untuk mengusun Laporan Arus Kas adalah cara yang paling mudah, si Mbah saya di kampung sana bilang “no brainer”—maksudnya tak perlu memeras otak untuk melakukannya, Si Otong di gang sebelah bilang “cemen.”
Kenapa paling mudah? Karena semua transaksi yang menggunakan kas (apapun jenisnya)—asalkan tidak tercecer atau ketinggalan—sudah pasti tercatat di Buku Kas. Dan, semua yang ada di Buku Kas sudah pasti catatan transaksi menggunakan kas, sehingga tak perlu lagi memilah-milah mana transaksi menggunakan kas dan mana yang tidak.
Teknisnya, tinggal mengambil semua data transaksi dari Buku Kas untuk periode yang diperlukan, lalu dikelompokan sesuai format laporan arus kas, seperti dalam contoh di bawah ini:

Contoh Format Laporan Arus Kas
Contoh Format Laporan Arus Kas

Dari contoh format laporan di atas, sudah sangat jelas terlihat transaksi kas apa saja yang dimasukkan ke masing-masing kelompok (1) Arus Kas dari Aktivitas Operasional; (2) Arus Kas dari Aktivitas Investasi; dan (3) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan.
Untuk mempercepat proses pembuatan laporan, jika anda menggunakan spreadsheet macam Ms Excel, bisa mengikuti 9 langkah praktis berikut ini:
Langkah-1. Siapkan format Laporan Arus Kas – Dengan menggunakan Ms Excel, siapkan fomat Laporan Arus Kas seperti contoh di atas, hanya saja bagian angkanya di kosongkan saja dulu (atau isi angka nol).
Langkah-2. Copy Buku Kas – Copy semua isi Buku Kas ke sheet lain. Entah dengan perintah “Copy and Move Sheet” atau “Ctrl + C” lalu “Ctrl +V”. Yang penting nantinya bisa diotak-atik tanpa menganggu file Buku Kas aslinya.
Langkah-3. Simpan Dengan Nama File “Data Arus Kas” – Setelah dicopy, jangan lupa hasil copynya disimpan dengan nama berbeda, misal “Data Arus Kas” atau nama lain yang penting namanya khas dan mudah anda kenali dikemudian hari jika diperlukan.
Langkah-4. Hilangkan Kolom “Saldo” – Kolom saldo tidak kita butuhkan dalam proses pengolahan data ini, yang kita butuhkan hanya nilai per transaksi (kolom Amount). Untuk itu hilangkan kolom “Saldo” dengan perintah Delete Column.
Langkah-5. Tambahkan Kolom “Kelompok” – Bentuk format Buku Kas—yang telah dicopy dan diganti nama menjadi “Data Arus Kas” bisa jadi beragam antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, akan tetapi sudah pasti berkolom-kolom. Nah, tambahkan kolom baru yang diberi label “Kelompok”. Dalam contoh kolom baru ini saya tambahkan sebelum kolom “Amount”. Kolom ini diisi (input) nama kelompok utama dari format Laporan Arus Kas, namun disingkat saja, misalnya: Operasional, Investasi, Pembiayaan. (perhatikan contoh format Lap Arus Kas di atas lalu perhatikan contoh pengisian kolom di bawah.)
Langkah-6. Tambahkan Kolom “Sub-Kelompok” – Setelah kolom “Kelompok” tambahkan satu kolom lagi beri label “Sub-Kelompok”. Kolom ini diinput nama sub-kelompok dari sub-kelompok format Laporan Arus Kas, misalnya: pembayaran Accounts Payable, atau Pembayaran Gaji, atau Terima Pembayaran Piutang, Bayar Listrik, Penjualan Aset, dlsb.
Berikut ini adalah contoh penambahan kolom “Kelompok” dan “Sub-Kelompok” pada spreadsheet Data Arus Kas:

Data Arus Kas (perhatikan kolom berwarna hijau dan kuning)
Langkah-7. Sort berdasarkan “Kelompok” dan “Sub-Kelompok” – Setelah semua kolom “Kelompok” dan “Sub-Kelompok” terisi, tinggal di sort dengan perintah Data==>Sort, berdasarkan kolom “Kelompok” lalu “Sub-Kelompok”, seperti di bawah ini:

Sort Data Arus Kas

Dengan demikian, Data Arus Kas sudah terkelompokkan sesuai dengan 3 kelompok utama Laporan Arus Kas dan terbagi-bagi menjadi sub-kelompok masing-masing kelompok utama.
Langkah-8. Sub total Data Yang Telah Disort – Setelah semua data arus kas terkelompokkan, selanjutnya disubtotal dengan perintah Data==>Sub-total. Sub-total dilakukan untuk setiap perubahan pada kolom “Sub-Kelompk”. Jebreettt. Hasilnya? Data terekelompokan dan tersub-total berdasarkan Kolom Sub-Kelompok. Setelah itu, lakukan sub-total SEKALI LAGI, atas setiap perubahan pada kolom “Kelompok”.
Sampai pada langkah ke-8 ini, maka Data Arus Kas telah terkelompokkan dan tersubtotal berdasarkan sub-kelompok dan kelompok.
Langkah-9. Pindahkan data ke Format Laporan Arus Kas – Masukan Angka Sub-Total per Sub-kelompok, satu-per-satu, ke masing-masing item yang ada pada format Laporan Arus Kas yang telah anda siapkan pada langkah-1. Selesai menjalankan langkah ke-9 ini, maka Laporan Arus Kas anda sudah siap!
Catatan: UJI LAPORAN ARUS KAS ANDA!
Hasil akhir dari Laporan Arus Kas berupa “Kenaikan/Penurunan Kas Bersih” untuk periode yang dilaporkan. Perhatikan format Laporan Arus Kas di atas, ada di baris paling akhir (dalam contoh kebetulan hasilnya berupa “Kenaikan Kas Bersih”). Caranya menguji?
Ada 2 tahap yang harus ditempuh untuk menguji akurasi dan kebenaran Laporan Arus Kas:
Tahap-1. Uji Lap Arus Kas-Vs-Buku Kas – Pertama anda bandingkan antara Lap Arus Kas yang sudah jadi dengan Buku Kas. Gunakan persamaan di bawah ini:
Kenaikan Kas bersih (pada lap arus kas ) + Saldo Awal (pada Buku Kas) = Saldo Akhir (pada Buku Kas).
Simpulan Hasil Uji Tahap-1:
  • Jika persamaan di atas terpenuhi, maka Laporan Arus Kas anda TELAH SESUAI dengan sumber data yang digunakan, yakni Buku Kas. Artinya anda bisa lanjutkan ke Uji Tahap-2 di bawah.
  • Jika persamaan di atas tidak terpenuhi, maka Laporan Arus Kas anda BELUM SESUAI dengan sumber data yang digunakan. Artinya anda harus ulangi proses pembuatan Laporan Arus Kas (dari langkah-1 s/d 9 di atas).
Tahap-2. Uji Lap Arus Kas-Vs-Neraca – Laporan Arus Kas telah sesuai dengan sumber data (Buku Kas) bukan berarti laporan sudah pasti akurat, masih perlu melalui ujian tahap-2, yakni dibandingkan dengan Naraca. Gunakan persamaan di bawah ini:
Kenaikan Kas bersih (pada lap arus kas ) + Saldo Awal (pada Buku Kas) = Saldo Akhir (pada Neraca).
Sama persis dengan uji tahap pertama, bedanya hanya pada saldo akhir yang digunakan, yakni diambil dari Neraca.
Simpulan Hasil Uji Tahap-2:
  • Jika persamaan di atas terpenuhi, maka Laporan Arus Kas anda SUDAH SESUAI dengan sumber data (Buku Kas) dan SUDAH SINKRON dengan Neraca. Bisa dibilang, Laporan Arus Kas anda SUDAH BENAR dan AKURAT. Boleh pulang… Maksud saya, congratulation! Well done!
  • Jika persamaan di atas tidak terpenuhi, maka Laporan Arus Kas anda TELAH SESUAI dengan sumber data yang digunakan, namun BELUM SINKRON dengan Neraca. Artinya? Entah Buku Arus Kas nya yang tidak lengkap (tidak akurat) atau Neracanya yang salah. Tapi jangan khawatir, kemungkinan ini sangat kecil, karena saat proses penyusunan Neraca sudah pasti saldo akhir yang digunakan adalah saldo akhir pada Buku Kas, kecuali Buku Kas sempat mengalami perubahan diantara tenggang waktu menyusun Neraca dan Laporan Arus Kas.
Mudah sekali bukan? Itu sebabnya si Mbah saya bilang “this is no brainer”.
Satu-satunya hambatan yang mungkin terjadi, terutama untuk pemula, adalah pada proses pengelompokan transaksi (langkah-5 dan 6). Pemula biasanya ragu-ragu apakah suatu transaksi dikelompokan ke Arus Kas dari Aktivitas Operasional, Investasi atau Pembiayaan?
Saya share panduan sederhana:
  • Transaksi kas LABA RUGI ==> AKTIVITAS OPERASIONAL
  • Transaksi kas AKTIVA LANCAR + UTANG LANCAR ==> AKTIVITAS OPERASIONAL
  • Transaksi kas AKTIVA TAK LANCAR ==> AKTIVITAS INVESTASI
  • Transaksi kas UTANG TAK LANCAR + MODAL + EKUITAS ==>AKTIVITAS PEMBIAYAAN
Cara membuat Laporan Arus Kas dengan menggunakan Buku Kas sebagai sumber data utama ini sering disebut METODE LANGSUNG (Direct Method). Namun perlu diketahui, yang disebut dengan “metode langsung” (direct method) dalam literature akuntansi merujuk pada teknik pembuatan laporan arus kas KHUSUS pada elemen “Arus Kas dari Aktivitas Operasional” saja. Nanti akan saya bahasa pada cara ke-2.

2. Menggunakan Laporan Laba Rugi dan Neraca Perbandingan

Hebatnya para akuntan, mereka bisa membuat laporan arus kas tanpa melihat transaksi pada Buku Kas. Tentu saja karena mereka memiliki kemampuan anlisa dan mampu mengkonversikan transaksi berbasis akrual menjadi transaksi berbasis kas.
Sayangnya, kemampuan itu biasanya belum dimiliki oleh mereka yang masih pemula (entry level). Sehingga bagi mereka, cara kedua ini menjadi relatif lebih sulit dibandingkan cara pertama di atas.
Namun demikian, harus belajar. Karena kelak, mau atau tak mau, memang harus bisa. Akuntan harus bisa bekerja dengan sumber data minim, tanpa mengorbankan akurasi laporan yang dihasilkan. HARUS BISA.
Disamping itu, teknik membuat laporan arus kas ini lebih disukai oleh mereka yang berkepentingan terhadap laporan arus kas (Manajemen, Kreditur, Debitur dan Pemerintah).
Cara kedua ini lebih disukai karena Laporan Arus Kas—khususnya aktivitas operasional—menjadi lebih sinkron dengan Laporan Laba Rugi. Dalam artian, hubungan antara “Laba Operasional” dengan “Kenaikan/Penurunan Kas Bersih” menjadi lebih terjelaskan. Sehingga tidak lagi muncul pertanyaan-pertanyaan ketika ada yang terlihat janggal pada Laporan Laba Rugi, misalnya:
Mengapa ketersediaan Kas sangat tinggi tetapi perusahaan membukukan Rugi (Loss Position)?; atau
Mengapa perusahaan membukukan Laba (Gain Position) tetapi ketersediaan kas begitu rendah;
Dan lain sebagainya.
Ada 6 langkah yang harus diikuti untuk menyusun Laporan Arus Kas dengan menggunakan sumber data “Laporan Laba Rugi” dan “Neraca Perbandingan,” sebagai berikut:
  • Langkah-1. Hitung Saldo Kas dan Setara Kas pada Neraca
  • Langkah-2. Konversikan Laporan Laba Rugi dari “Accrual” ke “Cash” Basis, untuk menentukan Arus Kas Dari Aktivitas Operasional (di sinilah bisa menggunakan direct atau indirect method)
  • Langkah-3. Analisa Aktiva Lancar dan Utang Lancar untuk melengkapi langkah-2.
  • Langkah-4. Analisa Aktiva Tak Lancar untuk menentukan Arus Kas Dari Aktivitas Investasi
  • Langkah-5. Analisa Utang Jangka Panjang, Modal dan Ekuitas untuk menentukan Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan
  • Langkah-6. Siapkan Laporan Arus Kas
Dua bagian pekerjaan yang paling sulit dari cara kedua ini adalah (a) mengkonversikan Laba Rugi dari Accrual ke Cash Basis; dan (b) melakukan anlisa akun-per-akun pada pada Neraca periode sebelumnya dan periode yang akan dilaporkan.
SYARAT UTAMA untuk bisa menggunakan teknik ini adalah menguasi mekanikal proses akuntansi sekaligus memiliki pemahaman yang sangat baik mengenai dampak perubahan (kenaikan/penurunan saldo) pada suatu akun terhadap akun lainnya.
Untuk lebih detail dari enam langkah di atas, akan saya bahas di artikel berikutnya, Menyusun Laporan Arus Kas dengan menggunakan Laporan Laba Rugi dan Neraca Perbandingan. Untuk sementara, silahkan kuasai dahulu cara pertama yang telah saya paparkan di atas. Untuk mencoba, JANGAN TAKUT SALAH. Kuncinya, yang penting tidak merusak sumber data yang digunakan. Kalau salah ya tinggal diulangi lagi. Begitu terus sampai benar. Selamat mencoba.

Minggu, 05 Januari 2014

spesification and further study




Spesialisasi 
""The indonesian pack""

Konsultasi manajemen mengacu pada umumnya untuk penyediaan layanan bisnis , tetapi ada banyak spesialisasi , seperti "" teknologi informasi konsultasi "",  sumber daya manusia konsultasi  , manajemen virtual konsultasi dan lain-lain , banyak yang tumpang tindih , dan sebagian besar yang ditawarkan oleh konsultan diversifikasi yang lebih besar . Jadi yang disebut " butik " konsultan.
bagaimanapun, adalah organisasi yang lebih kecil berfokus pada beberapa spesialisasi seperti .
Tahun 1990-an melihat peningkatan apa yang telah disebut sebagai ' berbasis masa depan' pendekatan . Ini menekankan bahasa dan penyelarasan orang-orang dalam suatu organisasi untuk visi bersama tentang masa depan organisasi , sebagaimana tercantum dalam buku " Tiga Hukum Kinerja " . Konsep penting di sini adalah bahwa cara orang melakukan terlihat berkorelasi dengan cara dunia yang terjadi bagi mereka dan bahwa bahasa berbasis masa depan bisa mengubah cara masa depan benar-benar terjadi bagi mereka .
Prinsip-prinsip ini semakin digunakan dalam organisasi yang telah mengalami transisi pasar atau merger yang membutuhkan pencampuran dari dua budaya perusahaan .
Namun, menjelang akhir tahun 1990-an pendekatan menurun karena persepsi bahwa konsep yang diuraikan dalam buku ini tidak dalam praktek menawarkan nilai tambah bagi organisasi .

Approaches
""The English pack""

Management consulting refers generally to the provision of business services , but there are many specialties , such as " " information technology consulting " ," human resource consulting , virtual management consulting and others , many of which overlap , and most of the diversification offered by consultants greater . So-called " boutique " consulting .
however , are smaller organizations focusing on several specialties like .
The 1990s saw an increase in what has been referred to as ' future -based ' approach . It emphasizes language and alignment of people within an organization to a common vision of the future of the organization , as stated in the book " Three Laws of Performance " . The important concept here is that the way people perform correlates to how the world looks going for them and that future -based language can change the way the future is really going on for them .
These principles are increasingly used in organizations that have transitioned markets or mergers that require mixing of two corporate cultures .
However , towards the end of 1990 decreased due to the perception that the approach concepts described in this book are not in the practice of offering added value to the organization .


Spesialisasi
""The indonesian pack""


Konsultasi manajemen mengacu pada umumnya untuk penyediaan layanan bisnis , tetapi ada banyak spesialisasi , seperti :
teknologi informasi konsultasi.
sumber daya manusia konsultasi.
manajemen virtual.
konsultasi dan lain-lain ,

banyak yang tumpang tindih dan sebagian besar yang ditawarkan oleh konsultan diversifikasi yang lebih besar .
Jadi yang disebut " butik " konsultan , bagaimanapun, adalah organisasi yang lebih kecil berfokus pada beberapa spesialisasi seperti .

Tahun 1990-an melihat peningkatan apa yang telah disebut sebagai ' berbasis masa depan' pendekatan . Ini menekankan bahasa dan penyelarasan orang-orang dalam suatu organisasi untuk visi bersama tentang masa depan organisasi , sebagaimana tercantum dalam buku " Tiga Hukum Kinerja " . Konsep penting di sini adalah bahwa cara orang melakukan terlihat berkorelasi dengan cara dunia yang terjadi bagi mereka dan bahwa bahasa berbasis masa depan bisa mengubah cara masa depan benar-benar terjadi bagi mereka . Prinsip-prinsip ini semakin digunakan dalam organisasi yang telah mengalami transisi pasar atau merger yang membutuhkan pencampuran dari dua budaya perusahaan . Namun, menjelang akhir tahun 1990-an pendekatan menurun karena persepsi bahwa konsep yang diuraikan dalam buku ini tidak dalam praktek menawarkan nilai tambah bagi organisasi .

specialization
""The English pack""


Management consulting refers generally to the provision of business services , but there are many specialties , such as :
information technology consulting .
human resources consulting .
Virtual management .
consulting and others ,

many overlapping and largely offered by consultants greater diversification .
So-called " boutique " consultants , however , are smaller organizations focusing on several specialties like .

The 1990s saw an increase in what has been referred to as ' future -based ' approach . It emphasizes language and alignment of people within an organization to a common vision of the future of the organization , as stated in the book " Three Laws of Performance " . The important concept here is that the way people perform correlates to how the world looks going for them and that future -based language can change the way the future is really going on for them . These principles are increasingly used in organizations that have transitioned markets or mergers that require mixing of two corporate cultures . However , towards the end of 1990 decreased due to the perception that the approach concepts described in this book are not in the practice of offering added value to the organization .



Keadaan saat ini industri
""The indonesian pack""


Konsultasi manajemen telah berkembang dengan cepat, dengan tingkat pertumbuhan industri lebih dari 20% di tahun 1980 dan 1990 (O'Mahoney 2010 [O'Mahoney, J. (2010) Konsultan Manajemen. Oxford University Press] ) sebagai layanan bisnis, konsultasi tetap sangat siklis dan terkait dengan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Industri konsultasi menyusut selama periode 2001-2003, namun tumbuh terus sampai krisis ekonomi baru-baru ini pada tahun 2009. Sejak saat itu pasar telah stabil.

Saat ini, ada tiga jenis utama dari perusahaan konsultan. Besar, organisasi yang terdiversifikasi, konsultan manajemen Menengah dan perusahaan butik yang berfokus bidang keahlian konsultasi di industri tertentu, area fungsional, teknologi, atau wilayah di dunia....



Current state of the industry
""The English pack""


Management consulting has grown quickly, with growth rates of the industry exceeding 20% in the 1980s and 1990s (O'Mahoney 2010[O'Mahoney, J. (2010) Management Consulting. Oxford University uk,As a business service, consulting remains highly cyclical and linked to overall economic conditions.  The consulting industry shrank during the 2001-2003 period, but grew steadily until the recent economic downturn in 2009. Since then the market has stabilised.

Currently, there are three main types of consulting firms. Large, diversified organizations, Medium-sized management consultancies and boutique firms that have focused areas of consulting expertise in specific industries, functional areas, technologies, or regions of the world.

Model Pendapatan
""The indonesian pack""

Secara tradisional, industri konsultasi yang dibebankan pada (( Biaya-plus pricing | waktu dan bahan )) dasar, penagihan untuk staf konsultan berdasarkan jam kerja ditambah out-of-saku biaya seperti biaya perjalanan. Selama 1990-an dan awal 2000-an, terjadi pergeseran ke lebih berbasis hasil penetapan harga, baik dengan tawaran tetap untuk kiriman pasti atau beberapa bentuk hasil berbasis harga di mana perusahaan akan membayar sebagian kecil dari nilai yang disampaikan. Kecenderungan saat ini tampaknya mendukung hibrida dengan komponen harga tetap dan pembagian risiko oleh perusahaan konsultan dan klien {{rujukan | date = July 2012}}.

 Revenue model 
""The English pack""


Traditionally, the consulting industry charged on a [[Cost-plus pricing|time and materials]] basis, billing for staff consultants based upon the hours worked plus out-of-pocket expenses such as travel costs.  During the late 1990s and early 2000s, there was a shift to more results-based pricing, either with fixed bids for defined deliverables or some form of results-based pricing in which the firm would be paid a fraction of the value delivered.  The current trend seems to favor a hybrid with components of fixed pricing and risk-sharing by both the consulting firm and client.{{citation needed|date=July 2012}}



Tren 
""The indonesian pack""


Penggunaan konsultan manajemen menjadi lebih umum dalam bidang non -bisnis termasuk sektor publik , seperti kebutuhan untuk dukungan profesional dan spesialis tumbuh , industri lain seperti pemerintah , quasi - pemerintah dan tidak - untuk-keuntungan lembaga yang beralih ke yang sama prinsip-prinsip manajerial yang telah membantu sektor swasta selama bertahun-tahun .

Sebuah tren struktural industri yang muncul di bagian awal abad ke-21 adalah spin- off atau pemisahan unit konsultasi dan akuntansi dari diversifikasi perusahaan penasihat profesional besar terutama Deloitte , Ernst & Young , PwC dan KPMG . Untuk perusahaan-perusahaan ini , yang mulai beroperasi sebagai perusahaan akuntansi dan audit, konsultasi manajemen adalah ekstensi baru untuk organisasi mereka . Tapi setelah sejumlah skandal yang dipublikasikan atas praktik akuntansi , seperti [ [ Enron skandal ] ] , perusahaan-perusahaan ini mulai divestasi unit manajemen - konsultasi mereka , untuk lebih mudah mematuhi pengawasan peraturan ketat yang diikuti . Di beberapa bagian dunia tren ini sekarang sedang terbalik di mana perusahaan-perusahaan dengan cepat membangun kembali lengan konsultasi manajemen mereka sebagai website perusahaan mereka jelas menunjukkan


Trends
""The English pack""


The use of management consultancy is becoming more prevalent in non-business fields including the public sector; as the need for professional and specialist support grows, other industries such as government, quasi-government and not-for-profit agencies are turning to the same managerial principles which have helped the private sector for years.

An industry structural trend which arose in the early part of the 21st century was the spin-off or separation of the consulting and accounting units of the large diversified professional advisory firms most notably Deloitte, Ernst & Young, PwC and KPMG.  For these firms, which began operation as accounting and audit firms, management consulting was a new extension to their organization.  But after a number of highly publicised scandals over accounting practices, such as the [[Enron scandal]], these firms began divestiture of their management-consulting units, to more easily comply with the tighter regulatory scrutiny that followed.  In some parts of the world this trend is now being reversed where the firms are rapidly rebuilding their management consulting arms as their corporate websites clearly demonstrate


Kebangkitan kelompok konsultasi internal perusahaan
""The indonesian pack""


Ditambahkan ke pendekatan ini adalah perusahaan-perusahaan yang membentuk kelompok konsultasi internal mereka sendiri, menyewa'' konsultan manajemen internal'' baik dari dalam perusahaan atau dari karyawan perusahaan eksternal '. Banyak perusahaan memiliki kelompok internal sebanyak 25 sampai 30 konsultan penuh waktu.

Kelompok konsultasi internal sering terbentuk di sekitar sejumlah daerah praktek, umumnya termasuk: pengembangan organisasi, manajemen proses, teknologi informasi, jasa desain, pelatihan, dan pengembangan.

Rise of internal corporate consulting groups
""The English pack""


Added to these approaches are corporations that set up their own internal consulting groups, hiring ''internal management consultants'' either from within the corporation or from external firms' employees.  Many corporations have internal groups of as many as 25 to 30 full-time consultants.

Internal consulting groups are often formed around a number of practice areas, commonly including: organizational development, process management, information technology, design services, training, and development.


Keuntungan
""The indonesian pack""


Ada beberapa manfaat potensial untuk mempekerjakan konsultan intern :
* Jika dikelola dengan baik dan diberdayakan , kelompok konsultasi internal mengevaluasi keterlibatan pada proyek-proyek dalam terang tujuan strategis dan taktis korporasi .
* Seringkali, konsultan internal memerlukan lebih sedikit jalan sampai waktu pada proyek karena keakraban dengan korporasi , dan mampu membimbing proyek melalui pelaksanaan - langkah yang sering akan terlalu mahal jika konsultan eksternal yang digunakan .
* Hubungan internal memberikan kesempatan untuk menjaga informasi perusahaan tertentu pribadi .
* Sangat mungkin bahwa waktu dan bahan biaya konsultan internal yang secara signifikan kurang dari konsultan eksternal yang beroperasi dalam kapasitas yang sama .
* Posisi konsultasi internal dapat digunakan untuk merekrut dan mengembangkan manajer senior potensi organisasi .

'' Catatan : Korporasi harus sadar dan konsisten dengan cara internal yang biaya konsultan dicatat pada kedua proyek dan tingkat organisasi untuk mengevaluasi efektivitas biaya '' .

* Konsultan internal dapat secara khusus cocok untuk:
# Tim proyek konsultasi eksternal Lead, atau
# Bertindak sebagai materi ahli subjek organisasi ' tertanam ' dengan tim konsultan eksternal di bawah arahan manajemen organisasi .

Sekelompok konsultan internal yang erat dapat memantau dan bekerja dengan perusahaan konsultan eksternal . Hal ini akan memastikan pengiriman yang lebih baik , kualitas , dan hubungan operasional secara keseluruhan .

Perusahaan eksternal menyediakan jasa konsultasi memiliki dikotomi dalam prioritas . Kesehatan perusahaan eksternal dalam agregat yang lebih penting daripada klien mereka ( meskipun tentu saja kesehatan klien mereka dapat memiliki dampak langsung pada kesehatan mereka sendiri ) .

Advantages
""The English pack""

There are several potential benefits to employing internal consultants:
* If properly managed and empowered, internal consulting groups evaluate engagement on projects in light of the corporation's strategic and tactical objectives.
* Often, the internal consultant requires less ramp up time on a project due to familiarity with the corporation, and is able to guide a project through to implementation — a step that would often be too costly if an external consultant were used.
* Internal relationship provides opportunities to keep certain corporate information private.
* It is likely that the time and materials cost of internal consultants is significantly less than external consultants operating in the same capacity.
* Internal consulting positions can be used to recruit and develop potential senior managers of the organization.

''Note: Corporations need to be conscious of and consistent with how internal consultant costs are accounted for on both a project and organizational level to evaluate cost effectiveness.''

*Internal consultants may be specifically suited to either:
# Lead external consulting project teams, or
# Act as organizational subject matter experts ‘embedded’ with external consulting teams under the direction of organizational management.

A group of internal consultants can closely monitor and work with external consulting firms. This would ensure better delivery, quality, and overall operating relationships.

External firms providing consulting services have a dichotomy in priority. The health of the external firm is in aggregate more important than that of their client (though of course the health of their client can have a direct impact on their own health).

Kekurangan 
""The indonesian pack""

* Konsultan internal mungkin tidak membawa objektivitas untuk hubungan konsultan bahwa perusahaan dapat eksternal.
* Seorang konsultan internal yang mungkin juga tidak membawa ke meja [[praktik terbaik]] dari perusahaan lain. Sebuah cara untuk mengurangi masalah ini adalah untuk merekrut pengalaman ke dalam kelompok dan / atau proaktif memberikan beragam pelatihan untuk konsultan intern.
* Konsultan internal mungkin menghadapi politik korporasi seperti kelompok dalam suatu organisasi.
* Dimana industri konsultasi yang kuat dan konsultasi tinggi kompensasi, bisa sulit untuk merekrut calon.
* Hal ini sering sulit untuk secara akurat mengukur biaya yang sebenarnya dan manfaat dari sebuah kelompok konsultasi internal.
* Ketika kali keuangan sulit, kelompok konsultasi internal yang belum efektif menunjukkan nilai ekonomi (biaya vs manfaat) kemungkinan menghadapi pengurangan ukuran atau penugasan kembali.

Disadvantages
""The English pack""

* The internal consultant may not bring the objectivity to the consulting relationship that an external firm can.
* An internal consultant also may not bring to the table [[best practices]] from other corporations. A way to mitigate this issue is to recruit experience into the group and/or proactively provide diverse training to internal consultants.
* Internal consultants may face corporate politics just as any group in an organization.
* Where the consulting industry is strong and consulting compensation high, it can be difficult to recruit candidates.
* It is often difficult to accurately measure the true costs and benefits of an internal consulting group.
* When financial times get tough, internal consulting groups that have not effectively demonstrated economic value (costs vs. benefits) are likely to face size reductions or reassignment.





== Konsultan Pemerintah ==

Penggunaan konsultan manajemen di pemerintah tersebar luas di banyak negara tetapi dapat dikenakan kesalahpahaman dan kontroversi yang dihasilkan .

1. amerika Serikat
.Di AS, [[Computer Sciences Corporation]] 's Praktek federal yang Consulting, Booz Allen Hamilton, Dan Deloitte Consulting LLP, ANTARA berbaring, telah membentuk profil untuk Konsultasi Dalam, organisasi pemerintahan Dan fungsi

2. Inggris

di inggris penggunaan konsultan manajemen eksternal dalam pemerintahan terkadang menjadi perdebatan karena persepsi nilai variabel untuk uang . Dari tahun 1997 sampai 2006, misalnya , pemerintah Inggris dilaporkan menghabiskan £ 20000000000 pada konsultan manajemen , <ref> [ http://business.timesonline.co.uk/tol/business/columnists/article703076.ece Konsultan biaya kami miliaran - dan untuk apa ] memunculkan pertanyaan di [ [ House of Commons dari Inggris | House of Commons ] ? ] untuk pengembalian atas investasi tersebut.

Inggris juga telah bereksperimen dengan menyediakan penggunaan jangka panjang teknik konsultasi manajemen yang diberikan secara internal , terutama untuk permintaan tinggi arena konsultasi pemerintah daerah dan (( National Health Service )).
Peningkatan tersebut [ [ Local Government Association ] ] ' s dan Badan Pengembangan dan kesehatan masyarakat ((Tim Support Nasional)). baik umpan balik positif yang dihasilkan pada tingkat biaya dianggap sebagian kecil dari apa masukan konsultasi komersial eksternal akan terjadi .

3. India
Di [ [ India ] ] , NabaRD Consultan Services ( NABCONS ) menyediakan jasa konsultasi di bidang pertanian , pembangunan pedesaan dan manajemen . Ini adalah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh National Bank untuk Pertanian dan Pembangunan Pedesaan ( NabaRD ) yang merupakan bank apex negara berkaitan dengan pertanian dan pembangunan pedesaan . NabaRD dimiliki oleh Pemerintah India dan Reserve Bank of India . Pertanian Finance Corporation Limited memberikan konsultasi terutama kepada pemerintah dan instansi terkait .



Criticism (( Kritik ))


Meskipun pendapatan konsisten tumbuh , konsultasi manajemen juga konsisten menarik sejumlah besar kritik , baik dari klien maupun dari sarjana manajemen .

Konsultan manajemen kadang-kadang dikritik karena terlalu sering menggunakan [ [ kata kunci ] ] s , ketergantungan pada dan propagasi [ [ manajemen iseng ] ] s , dan kegagalan untuk mengembangkan rencana yang dieksekusi oleh klien . Sejumlah buku kritis tentang konsultasi manajemen berpendapat bahwa ketidaksesuaian antara saran konsultasi manajemen dan kemampuan eksekutif untuk benar-benar membuat perubahan yang disarankan hasil dalam kerusakan besar untuk bisnis yang ada . Dalam bukunya '' Saran cacat dan Manajemen Perangkap '' , [ [ Chris Argyris ] ] percaya bahwa banyak dari saran yang diberikan saat ini memiliki manfaat yang nyata . Namun, pemeriksaan dekat menunjukkan bahwa saran yang paling diberikan saat ini mengandung kesenjangan dan inkonsistensi yang dapat mencegah hasil positif di masa depan .
Argyris , Chris . Saran cacat dan Manajemen Trap. New York : Oxford University Press , USA .

Perusahaan konsultan yang lebih jelek kadang-kadang dituduh memberikan janji-janji kosong , meskipun biaya tinggi , dan didakwa dengan " menyatakan yang sudah jelas " atau kurang pengalaman yang mendasari nasihat mereka . Konsultan ini membawa beberapa inovasi , bukannya menawarkan generik dan " dikemas " strategi dan rencana yang tidak relevan dengan isu tertentu klien . Mereka mungkin gagal untuk memprioritaskan tanggung jawab mereka , menempatkan kepentingan perusahaan mereka sendiri sebelum orang-orang dari klien .

Kekhawatiran lain adalah janji perusahaan konsultan untuk mewujudkan keberlanjutan hasil . Pada akhir suatu perikatan antara klien dan perusahaan konsultan , sering ada harapan bahwa konsultan akan mengaudit hasil proyek untuk periode waktu tertentu untuk memastikan bahwa usaha mereka berkelanjutan . Meskipun keberlanjutan dipromosikan oleh beberapa perusahaan konsultan , sulit untuk melaksanakan karena memutuskan antara klien dan perusahaan konsultan setelah proyek ditutup .

Kritik lebih lanjut meliputi : pembongkaran bisnis ( dengan menembakkan karyawan ) dalam drive untuk memotong biaya , hanya menyediakan laporan analisis , konsultan junior pengisian harga senior, menjual kembali laporan serupa ke beberapa klien sebagai " pekerjaan kustom " , kurangnya inovasi , overbilling selama berhari-hari tidak bekerja , kecepatan pada biaya kualitas , perusahaan-perusahaan besar tidak responsif dan kurangnya ( kecil ) fokus klien , kurangnya kejelasan kiriman dalam kontrak , tidak menyesuaikan kriteria laporan penelitian yang spesifik dan kerahasiaan .







Kualifikasi profesional ((Professional qualifications))


Ada beberapa kualifikasi yang dapat menyebabkan menjadi konsultan manajemen , mereka termasuk :

* Yang diakui secara internasional ((The internationally recognized'''Certified Management Consultant)) ( CMC ) sebutan profesional
* Chartered Bisnis Strategist ( CBS )
* Chartered Perusahaan Analis Risiko ( CERA )
* Manajemen Consulting Excellence ( MCE ) sertifikasi
* Akuntansi // kualifikasi.
-Chartered Institute of Management Akuntan.
-Manajemen Chartered Accountant ( CIMA ) ,
-Biaya dan Akuntan Manajemen  ( CMA ) ,
-Chartered Akuntan ( ACCA ) ,
-Chartered Accountant ( CA ) ,
-Akuntan Publik ( CPA ) ,
-Bersertifikat Akuntan Berlatih  ( CPA ) ,
- Bersertifikat Akuntan Manajemen ( CMA )
-Chartered Accountant Biaya (CCA)

Penunjukan dari ((American Academy of Manajemen Keuangan | AAFM))

* Teknik kualifikasi :
-Chartered Insinyur ( C.Eng - Inggris )
-Insinyur Profesional ( . PE / P. Eng - Amerika Serikat dan Kanada ) ,
-Diploma Insinyur Grande Ecole ( France )

* Aktuaria kualifikasi :
-Casualty Actuarial Masyarakat  ( FCAS )
-Amerika Serikat, ((Persatuan Aktuaris )) ( FSA )
-Amerika Serikat, [ [ Institut Aktuaris ] ] ( FIA )
-Inggris , (( Fakultas Aktuaris )) ( FFA ) - Skotlandia

* Keuangan kualifikasi :
-Chartered Financial Analyst ( CFA ) ,
-Bersertifikat Treasury Professional ( CTP )

* Kualifikasi Konsultasi :
- Inggris  MSc Business Analytics dan Konsultasi Praktek , Hull University Business School ,
  , (( Master of Science dalam Business Consulting )) ( MSc ) ,
- Jerman  Furtwangen University of Applied Sciences , (( Master of Business Administration di International Business Consulting ))
   ( MBA ) , .
-Jerman The Graduate School of Offenburg University of Applied Sciences | Hochschule Offenburg University of Applied Sciences ] ] ,

* Industri / Psikologi Organisasi kualifikasi :
- Ph.D. Industri / Psikologi Organisasi (( Master of Science di Industri / Psikologi Organisasi )) ,

* Administrasi Bisnis kualifikasi :
-Master of Science dalam Manajemen - Eropa - ( MSc.in Management) ,
-Magister Manajemen di Grande Ecole - Perancis,
-Master of Business Administration ( MBA ) - USA  Kanada (( Doktor Manajemen )) ( Ph.D. ) , (( Doctor of Business Administration ))
-USA/Canada- ( DBA )

* Administrasi Publik kualifikasi :
Master of Public Administration ( MPA ) -USA/Canada/Europe ,  ( Doctor of Public Administration )

* Manajemen Proyek kualifikasi :
-Manajemen Proyek Professional  ( PMP ) yang diakui secara global ,
-Master of Project Management ( MPM ) - Amerika Serikat / Kanada / Eropa

* Gelar Lanjutan Profesional seperti ( PhD ) s atau ( gelar Master )
-Industri / Psikologi Organisasi,
-Psikologi Industri.
-Organisasi Psikologi.
-Teknik ] ] ,
-Ekonomi
-Ilmu Doctor of Medicine | MD ,s ,
-Juris Doctor | JD specialy ..... dll...

*secara khusus ditargetkan oleh perusahaan seperti :
-McKinsey & Company
-McKinsey Bain & Company ,
-Arthur D. sedikit.
-Boston Consulting Group .

Gelar ini juga mungkin memiliki konsentrasi di bidang konsultasi manajemen , manajemen internasional , atau fokus lain yang relevan.


* Akademischer Unternehmensberater ( Manajemen Akademik Consultant ) - Austria
-lembaga untuk konsultan manajemen dan ahli teknologi informasi ,
* Pemasaran kualifikasi : Chartered Postgraduate Diploma in Marketing , yang dapat menyebabkan status Marketer Chartered dari The Chartered Institute of Marketing ( CIM )
* Konsultasi kualifikasi :Multidimensional Human Factor Management Consulting ( MDHFM ) Multidimensional Human Factor Management School Jerman oleh Luis Daniel Maldonado Fonken.
* Lingkungan Profesional ( EP ) Sertifikasi : Sebuah ((ISO / IEC 17024:2003 )) terakreditasi program dikelola melalui (( ECO Kanada ))menjamin mandat Profesional Lingkungan dalam disiplin ilmu inti .
* Manajemen Kualifikasi dan Sertifikasi : Chartered Institute of Management dan Kepemimpinan (( Delaware )), Amerika Serikat

Model dan kerangka kerja konseptual manajemen strategis







Kesulitan sepenuhnya memahami dan menanggapi isu-isu kompleks yang dihadapi oleh suatu organisasi telah menyebabkan proliferasi model manajemen strategis dan kerangka kerja . Masing-masing dari berbagai model mencoba untuk mengatur sejumlah isu dan membuat mereka lebih mudah dipahami . Salah satu kerangka kerja yang paling dasar dan banyak digunakan adalah [ [ SWOT ] ] analisis , yang meneliti kedua elemen internal organisasi - '' ' S ''' trengths dan '' ' W ''' eaknesses - dan elemen eksternal - '' ' O ''' pportunities dan '' ' T ''' hreats .

Banyak kerangka lain yang umum digunakan dalam manajemen dan mengajar di sekolah bisnis. Beberapa yang lebih umum tercantum di bawah ini .

* ""PEST analisis"" atau analisis CURAM ( meneliti faktor lingkungan makro - ekonomi seperti politik, ekonomi , faktor sosial , dan peraturan pemerintah .
* Variasi umum meliputi tempat tinggal , alur , STEEPLE , dan analisis STEER , yang masing-masing mencakup penekanan yang sedikit berbeda .
* The [ [ Seimbang Scorecard ] ] upaya untuk mengukur kinerja suatu organisasi dari perspektif berbagai pemangku kepentingan . Sementara sering digunakan dalam manajemen kinerja atau konteks manajemen operasional, balanced scorecard juga berharga untuk manajemen strategis dalam membantu mendefinisikan dan mempertahankan keunggulan kompetitif .
* The [ [ Porter lima kekuatan analisis | Porter Five Forces Analisis ] ] kerangka membantu untuk menentukan intensitas kompetitif dan karena itu daya tarik pasar .

Models and conceptual frameworks of strategic management
"The English pack"

The difficulty of fully comprehending and responding to the complex issues faced by an organization has led to a proliferation of strategic management models and frameworks. Each of the various models attempts to organize a number of issues and make them more readily understandable. One of the most basic and widely-used frameworks is the [[SWOT]] analysis, which examines both internal elements of the organization — '''S'''trengths and '''W'''eaknesses — and external elements — '''O'''pportunities and '''T'''hreats.

Many other frameworks are commonly used in management and taught in [[business schools]]. Some of the more common are listed below.

*[[PEST analysis]] or [[STEEP analysis]] examines macro-economic environmental factors such as politics, economics, social factors, and government regulation. Common variations include SLEPT, PESTLE, STEEPLE, and STEER analysis, each of which incorporates slightly different emphases.
*The [[Balanced Scorecard]] attempts to measure the performance of an organization from the perspective of various stakeholders. While often used in a performance management or operational management context, the balanced scorecard is also valuable to strategic management in helping to define and maintain competitive advantage.
*The [[Porter five forces analysis|Porter Five Forces Analysis]] framework helps to determine the competitive intensity and therefore attractiveness of a market.

Growth and portfolio theory ( Pertumbuhan dan portofolio teori )






Pada 1970-an banyak manajemen strategis ditangani dengan ukuran, pertumbuhan , dan teori portofolio .
Jangka panjang [ [ PIMS studi ] ] , dimulai pada tahun 1960 dan berlangsung selama 19 tahun , berusaha untuk memahami Laba Dampak Strategi Pemasaran ( [ [ dampak Laba dari strategi pemasaran | PIMS ] ] ) , khususnya pengaruh pangsa pasar .
Itu dimulai pada [ [ General Electric ] ] , pindah ke [ [ Harvard ] ] pada awal tahun 1970 , dan kemudian pindah ke [ [ Institut Perencanaan Strategis ] ] pada akhir tahun 1970 .
Ini sekarang berisi dekade informasi tentang hubungan antara profitabilitas dan strategi .
Kesimpulan awal mereka adalah jelas : semakin besar pangsa pasar perusahaan , semakin besar tingkat mereka keuntungan .
Pangsa pasar menyediakan [ [ skala ekonomi ] ] .
Ini juga menyediakan [ [ pengalaman kurva ] ] keuntungan . Efek gabungan meningkat keuntungan <ref> Buzzell , R. dan Gale , B. '' The PIMS Prinsip : . . Menghubungkan Strategi terhadap Kinerja '' , Free Press , New York , 1987

Manfaat dari pangsa pasar yang tinggi secara alami menyebabkan minat dalam strategi pertumbuhan .
Keuntungan relatif dari [ [ integrasi horizontal ] ] , [ [ integrasi vertikal ] ] , diversifikasi , [ [ Waralaba | franchise ] ] s , [ [ merger dan akuisisi ] ] , usaha patungan dan pertumbuhan organik dibahas .

Penelitian lain menunjukkan bahwa strategi pangsa pasar yang rendah masih bisa sangat menguntungkan . Schumacher ( 1973) ,Schumacher , EF '' Kecil is Beautiful : Studi Ekonomi seakan Orang penting '' , ISBN 0-06-131778-0 ( ISBN 0-88179-169-5 juga ) Woo dan Cooper ( 1982) , Woo , C dan Cooper , A. " kasus mengejutkan untuk pangsa pasar rendah" , '' Harvard Business Review '' , November- Desember 1982, pg 106-113 . Levenson ( 1984) ,Levinson , JC '' Guerrilla Marketing , Rahasia untuk membuat keuntungan besar dari bisnis kecil Anda '' , Houghton Muffin Co New York , 1984, ISBN 0618785914 dan kemudian Traverso ( 2002 ) Traverso , D. '' pintar dari Goliath '' , Bloomberg Press, Princeton , 2000 . menunjukkan bagaimana pemain niche yang lebih kecil diperoleh hasil yang sangat tinggi .

Pada awal 1980-an kesimpulan paradoks adalah bahwa pangsa pasar tinggi dan pangsa pasar yang rendah perusahaan sering sangat menguntungkan tetapi sebagian besar perusahaan di antara tidak .
Hal ini kadang-kadang disebut " lubang di tengah " masalah . Porter menjelaskan anomali ini pada 1980-an .

Manajemen organisasi diversifikasi diperlukan teknik tambahan dan cara berpikir . CEO pertama untuk mengatasi masalah perusahaan multi - divisi adalah [ [ Alfred Sloan ] ] di General Motors . GM mempekerjakan semi- otonom " unit bisnis strategis " ( SBU ) , dengan fungsi dukungan terpusat .

Salah satu konsep yang paling berharga dalam manajemen strategis dari perusahaan multi - divisi adalah teori portofolio . Dalam dekade sebelumnya [ [ Harry Markowitz ] ] dan teori keuangan lainnya yang dikembangkan [ [ teori portofolio modern ] ] . Mereka menyimpulkan bahwa portofolio luas dari aset keuangan dapat mengurangi [ risiko spesifik [ ] ] . Pada 1970-an pemasar diperpanjang teori keputusan portofolio produk dan strategi manajerial diperpanjang hingga portofolio divisi operasi . Masing-masing divisi operasional perusahaan dipandang sebagai suatu unsur dalam portofolio perusahaan . Setiap divisi operasi diperlakukan sebagai profit center semi- independen dengan pendapatan sendiri , biaya , tujuan dan strategi .

Beberapa teknik yang dikembangkan untuk menganalisis hubungan antara unsur-unsur dalam portofolio . [ [ B.C.G. Analisis ] ] , misalnya , dikembangkan oleh [ [ Boston Consulting Group ] ] pada awal tahun 1970 . Tak lama setelah itu [ [ G.E. Analisis multi- factoral | G.E. model multi factoral ] ] dikembangkan oleh General Electric . Perusahaan terus melakukan diversifikasi sampai tahun 1980-an ketika disadari bahwa dalam banyak kasus portofolio divisi operasi itu bernilai lebih sebagai perusahaan yang terpisah benar-benar independen .



.

Gaya manajemen


                           

Manajer harus melakukan banyak peran dalam sebuah organisasi dan bagaimana mereka menangani berbagai situasi akan tergantung pada gaya manajemen mereka . Sebuah gaya manajemen adalah metode keseluruhan kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manajer . Ada dua gaya kontras tajam yang akan dipecah menjadi subset yang lebih kecil kemudian:

otokratis
serba membolehkan
Setiap gaya memiliki karakteristik sendiri :

Otokratis : Pemimpin membuat semua keputusan sepihak .

Permissive : izin Leader bawahan untuk mengambil bagian dalam pengambilan keputusan dan juga memberi mereka tingkat otonomi dalam menyelesaikan aktivitas kerja rutin .

Menggabungkan kategori ini dengan demokratis ( bawahan diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan ) dan direktif ( bawahan diberitahu persis bagaimana untuk melakukan pekerjaan mereka ) gaya memberi kita empat cara yang berbeda untuk mengelola :

Petunjuk Demokrat : Membuat keputusan partisipatif ; erat mengawasi bawahan .

Petunjuk otokrat : Membuat keputusan secara sepihak , erat mengawasi bawahan .

Permissive Demokrat :

Membuat keputusan partisipatif memberikan bawahan lintang dalam melaksanakan pekerjaan mereka .

Permissive otokrat :

Membuat keputusan secara sepihak , memberi bawahan lintang dalam melaksanakan pekerjaan mereka

Dalam situasi apa yang akan masing-masing gaya sesuai ? Tidak pantas ?

Manajer juga harus menyesuaikan gaya mereka sesuai dengan situasi yang mereka disajikan dengan . Di bawah ini adalah empat kuadran kepemimpinan situasional yang bergantung pada jumlah dukungan dan bimbingan yang dibutuhkan :

Menceritakan :

Bekerja terbaik ketika karyawan tidak bersedia atau tidak mampu melakukan pekerjaan ( kebutuhan tinggi dukungan dan tingginya kebutuhan bimbingan ) .

Mendelegasikan :

Bekerja terbaik ketika karyawan bersedia melakukan pekerjaan dan tahu bagaimana untuk pergi tentang itu ( kebutuhan rendah dukungan dan kebutuhan rendah bimbingan ) .

Berpartisipasi :

Bekerja terbaik ketika karyawan memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu , tapi membutuhkan jumlah tinggi dukungan ( kebutuhan rendah bimbingan tapi kebutuhan tinggi dukungan ) .

Jual : Bekerja terbaik ketika karyawan bersedia untuk melakukan pekerjaan itu , tapi tidak tahu bagaimana melakukannya ( kebutuhan rendah dukungan tetapi tingginya kebutuhan bimbingan ) .

Gaya yang berbeda tergantung pada situasi dan perilaku hubungan ( jumlah dukungan yang diperlukan ) dan perilaku tugas (jumlah bimbingan yang diperlukan ) .

Dapatkah Anda menebak yang gaya manajemen akan bekerja terbaik untuk setiap situasi yang tercantum di atas ?

Haruskah manajer menggunakan hanya satu gaya manajemen ? Gaya situasional ?

Di bawah ini adalah beberapa situasi dan pilihan untuk apa yang akan Anda lakukan . Cobalah untuk memutuskan mana dari empat gaya situasional akan bekerja terbaik dalam setiap situasi . Kemudian memilih opsi yang paling sesuai dengan gaya itu.

situasi 1

Karyawan dalam program Anda tampaknya mengalami masalah serius mendapatkan pekerjaan yang dilakukan . Kinerja mereka telah akan menurun dengan cepat . Mereka tidak menanggapi upaya Anda untuk bersikap ramah atau ekspresi Anda keprihatinan untuk kesejahteraan mereka .

Gaya yang akan Anda pilih ? Apa yang akan Anda lakukan?

Membangun kembali kebutuhan untuk mengikuti prosedur dan program yang memenuhi harapan untuk penyelesaian tugas .
Pastikan bahwa anggota staf tahu Anda tersedia untuk diskusi , tetapi tidak menekan mereka .
Bicara dengan karyawan Anda dan kemudian menetapkan tujuan kinerja .
Tunggu dan lihat apa yang terjadi .

situasi 2

Selama beberapa bulan terakhir , kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh anggota staf telah meningkat . Pencatatan yang akurat dan up to date. Anda telah berhati-hati untuk memastikan bahwa anggota staf menyadari ekspektasi kinerja Anda .

Gaya yang akan Anda pilih ? Apa yang akan Anda lakukan?

1. Tetap tidak terlibat .
2. Terus menekankan pentingnya menyelesaikan tugas dan memenuhi tenggat waktu .
3. Jadilah pendukung dan memberikan umpan balik yang jelas .
4. Lanjut memastikan bahwa anggota staf menyadari ekspektasi kinerja .
5. Melakukan segala upaya untuk membiarkan anggota staf merasa penting dan terlibat dalam proses  pengambilan keputusan .


situasi 3

Kinerja dan hubungan interpersonal antara staf Anda telah baik . Anda telah biasanya meninggalkan mereka sendirian . Namun, situasi baru telah dikembangkan , dan tampaknya bahwa anggota staf tidak mampu memecahkan masalah sendiri .

Gaya yang akan Anda pilih ? Apa yang akan Anda lakukan?

Membawa kelompok bersama-sama dan bekerja sebagai sebuah tim untuk memecahkan masalah .
Terus meninggalkan mereka sendirian untuk bekerja keluar .
Bertindak cepat dan tegas untuk mengidentifikasi masalah dan menetapkan prosedur untuk memperbaikinya
Mendorong staf untuk bekerja pada masalah , membiarkan mereka tahu Anda tersedia sebagai sumber daya dan untuk diskusi jika mereka membutuhkan Anda .

situasi 4

Anda sedang mempertimbangkan perubahan besar dalam program Anda . Staf Anda memiliki catatan prestasi yang baik dan komitmen yang kuat untuk keunggulan . Mereka mendukung perlunya perubahan dan telah terlibat dalam perencanaan .

Gaya yang akan Anda pilih ? Apa yang akan Anda lakukan?

Lanjutkan untuk melibatkan staf dalam perencanaan , tetapi mengarahkan perubahan.
Mengumumkan perubahan dan kemudian menerapkannya dengan pengawasan yang ketat .
Memungkinkan kelompok untuk terlibat dalam mengembangkan perubahan , tapi dont mendorong proses.
Biarkan staf mengelola proses perubahan .




The English pack


Management Styles

Managers have to perform many roles in an organization and how they handle various situations will depend on their style of management. A management style is an overall method of leadership used by a manager. There are two sharply contrasting styles that will be broken down into smaller subsets later:

Autocratic
Permissive
Each style has its own characteristics:

Autocratic : Leader makes all decisions unilaterally.

Permissive: Leader permits subordinates to take part in decision making and also gives them a considerable degree of autonomy in completing routine work activities.

Combining these categories with democratic (subordinates are allowed to participate in decision making) and directive (subordinates are told exactly how to do their jobs) styles gives us four distinct ways to

manage :

Directive Democrat: Makes decisions participatively; closely supervises subordinates.

Directive Autocrat: Makes decisions unilaterally; closely supervises subordinates.

Permissive Democrat: Makes decisions participatively; gives subordinates latitude in carrying out their work.

Permissive Autocrat: Makes decisions unilaterally; gives subordinates latitude in carrying out their work.

In what situations would each style be appropriate? Inappropriate?

Managers must also adjust their styles according to the situation that they are presented with. Below are four quadrants of situational leadership that depend on the amount of support and guidance needed:

Telling: Works best when employees are neither willing nor able to do the job (high need of support and high need of guidance).

Delegating:

Works best when the employees are willing to do the job and know how to go about it (low need of support and low need of guidance).

Participating:

Works best when employees have the ability to do the job, but need a high amount of support (low need of guidance but high need of support).

Selling :

Works best when employees are willing to do the job, but don t know how to do it (low need of support but high need of guidance).

The different styles depend on the situation and the relationship behavior (amount of support required) and task behavior (amount of guidance required).

Can you guess which management styles would work best for each situation listed above?

Should managers use only one management style? Situational style?

Listed below are a few situations and options for what you would do. Try to decide which of the four situational styles would work best in each situation. Then pick the option that best fits that style.

Situation 1

The employees in your program appear to be having serious problems getting the job done. Their performance has been going downhill rapidly. They have not responded to your efforts to be friendly or to your expressions of concern for their welfare.

Which style would you pick? What would you do?

Reestablish the need for following program procedures and meeting the expectations for task accomplishment.
Be sure that staff members know you are available for discussion, but don t pressure them.
Talk with your employees and then set performance goals.
Wait and see what happens.

Situation 2

During the past few months, the quality of work done by staff members has been increasing. Record keeping is accurate and up to date. You have been careful to make sure that the staff members are aware of your performance expectations.

Which style would you pick? What would you do?

1. Stay uninvolved.
2. Continue to emphasize the importance of completing tasks and meeting deadlines.
3. Be supportive and provide clear feedback.
4. Continue to make sure that staff members are aware of performance expectations.
5. Make every effort to let staff members feel important and involved in the decision making process.

Situation 3

Performance and interpersonal relations among your staff have been good. You have normally left them alone. However, a new situation has developed, and it appears that staff members are unable to solve the problem themselves.

Which style would you pick? What would you do?

Bring the group together and work as a team to solve the problem.
Continue to leave them alone to work it out.
Act quickly and firmly to identify the problem and establish procedures to correct it
Encourage the staff to work on the problem, letting them know you are available as a resource and for discussion if they need you.

Situation 4

You are considering a major change in your program. Your staff has a fine record of accomplishment and a strong commitment to excellence. They are supportive of the need for change and have been involved in the planning.

Which style would you pick? What would you do?

Continue to involve the staff in the planning, but direct the change.
Announce the changes and then implement them with close supervision.
Allow the group to be involved in developing the change, but don t push the process.
Let the staff manage the change process.